Hal ini juga menunjukkan bahwa kelompok masyarakat tersebut
cukup aktif dalam usaha mengetahui lebih banyak dan menghindari bahaya
HIV/AIDS. Peningkatan peran serta masyarakat dalam menghindari dan memerangi
HIV/AIDS merupakan suatu bagian yang cukup penting, namun bukan merupakan
satu-satunya cara yang dapat dilakukan.
Salah satu kelompok non-resiko tinggi yang perlu mendapat
perhatian sekaligus dapat dijadikan benteng pencegahan penyakit HIV/AIDS adalah
lembaga keluarga. Sebab, jika suatu keluarga mempunyai pengetahuan yang memadai
tentang penyakit HIV/AIDS, bukan saja hal ini dapat berpengaruh pada upaya
keluarga tersebut untuk berperilaku seks secara sehat dan aman (dalam Dwiyanti,
2000; 22).
Keluarga telah lama diketahui sebagai sumber utama pola
perilaku sehat. Banyak studi yang telah menguji peran keluarga dalam berbagai
perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, seperti aktivitas fisik, pola-pola
nutrisi, dan penggunaan substansi, dimana masing-masing perilaku tersebut
memiliki hubungan yang kuat dengan perkembangan dan pemeliharaan penyakit
kronis.
Peran keluarga dalam perilaku sehat dapat dijelaskan dalam
dua perspektif, yaitu perspektif sistem keluarga yang dikemukakan oleh Minuchin
dan perspektif perkembangan keluarga yang dikemukakan oleh Aldous (dalam Lees,
2004; 209). Dalam teori sistem keluarga, perilaku sehat diperoleh dengan
membentuk suatu sistem sosial dimana masing-masing anggota keluarga membentuk
suatu ikatan bersama, mencapai suatu tujuan (keadaan tubuh yang sehat), dan
mengelola keseimbangan (mempertahankan kondisi yang sehat). Dalam teori
perkembangan keluarga, perilaku sehat diperoleh melalui suatu tahapan
tugas-tugas kehidupan di dalam suatu keluarga.
Suatu penelitian yang dilakukan oleh Brackis-Cott, Mellins,
dan Block (2003) menemukan bahwa anak remaja awal yang memiliki Ibu yang
negatif HIV cenderung lebih menaruh perhatian pada aktivitas seksual,
kehamilan, keamanan & kekerasan, serta obat-obatan. Sementara pada anak
remaja yang memiliki Ibu yang positif HIV cenderung lebih perhatian pada sakit
dan kematian ibunya, tanggung jawab orang dewasa, pengucilan dan stigma
masyarakat, serta ketidakjelasan masa depan mereka.
Hasil penelitian ini dapat memberikan suatu gambaran kepada
kita mengenai manfaat peran anggota keluarga dalam usaha memahami dan
menghindari perilaku yang beresiko terkena HIV/AIDS. Pada anak remaja dengan
ibu yang negatif HIV terjadi komunikasi mengenai beberapa hal yang diketahui
sebagai media penyebaran virus HIV, yaitu aktivitas seksual dan penggunaan
obat-obatan yang tidak aman.
Di sisi lain, pada anak remaja yang memiliki ibu positif
HIV, cenderung tertarik pada hal-hal terkait beban sosial yang akan dipikul
mereka kelak, khususnya yang berkenaan dengan kondisi ibunya, seperti sakit
& stigma sosial yang dialaminya. Perbedaan hasil ini salah satunya disebabkan
oleh perbedaan situasi dan kondisi yang dialami oleh kedua bentuk keluarga
tersebut.
Namun, yang dapat kita ambil dari penelitian ini adalah,
baik dalam keluarga yang memiliki anggota yang positif HIV maupun negatif HIV,
keduanya dapat memunculkan peran penting dalam usaha memberikan anak suatu
kerangka berpikir dan pemahaman mengenai HIV/AIDS. Pemahaman tersebut dapat
berupa hal-hal yang menjadi media penularan HIV/AIDS serta akibat-akibat sosial
yang dapat dialami oleh seorang penderita HIV/AIDS.
Penelitian terkait juga dilakukan oleh Sigelman dan rekannya
(dalam Tinsley, Lees, dan Sumartojo, 2004; 211) yang meneliti peran orang tua
dalam sosialisasi pengetahuan dan sikap terhadap HIV pada anak yang berada di
kelas 3, 5, dan 7 (8-14 tahun). Hasil yang diperoleh antara lain ditemukan
adanya pemahaman yang tepat mengenai perilaku beresiko dan transmisi HIV
seiring dengan bertambahnya usia. Hasil lainnya adalah hubungan yang signifikan
antara pengetahuan orang tua dan pengetahuan anak mengenai mitos-mitos
penularan HIV/AIDS. Penerimaan anak terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) juga
berhubungan dengan sikap orang tua terhadap HIV.
Hal penting lainnya yang juga perlu untuk diperhatikan
adalah tes HIV/AIDS. Tes HIV adalah gerbang untuk penanganan, perawatan, dan
prevensi yang baik (apabila dilakukan dengan benar dan sejak dini). Sebagian
besar orang yang hidup dengan HIV mendapatkan tes dan konseling hanya ketika
mereka telah mendapatkan penyakit klinis yang parah. Perhatian pada kebutuhan
(akan tes HIV sejak dini) dan kenyataan (keterlambatan penanganan) telah
menghantarkan pada panggilan yang mendesak akan “tugas yang belum
terselesaikan” ini dan memperluas pengetesan di negara berkembang.
Pengetesan HIV yang dilakukan dalam lingkungan perawatan
klinis dapat membantu dalam manajemen perawatan pasien (Obermeyer & Osborn,
2007; 1762). Keluarga dapat membantu berkenaan dengan pentingnya pengetesan
HIV/AIDS sejak dini dan reguler dengan mengajak anak-anaknya untuk melakukan
tes HIV/AIDS sembari diberi penjelasan mengenai apa, bagaimana, dan untuk apa
hal tersebut dilakukan.
Jika kita melihat kembali pada penjelasan sebelumnya, akan
tampak bahwa kunci dari menghindari bahaya HIV/AIDS adalah informasi atau
pengetahuan mengenai HIV/AIDS itu sendiri. Bagaimanapun, upaya untuk membentuk
ketahanan keluarga –khususnya dari penyakit HIV/AIDS– harus dimulai dengan
pengetahuan tentang penyakit tersebut (dalam Dwiyanti, 2000; 22).
Suatu perilaku yang tepat dapat menghindari bahaya HIV/AIDS
harus dimulai dari pengetahuan yang memadai mengenai HIV/AIDS itu sendiri. Di
samping untuk mencegah diri dari melakukan berbagai hal yang beresiko
menularkan HIV/AIDS, juga membantu kita untuk dapat berperilaku yang tepat
kepada penderita HIV/AIDS. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Davis, Sloan,
MacMaster, dan Kilbourne (2007) yang meneliti kaitan antara pengetahuan dan
aktivitas seksual yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa mengungkap pentingnya
kesadaran (pengetahuan) akan HIV/AIDS.
Penelitian tersebut menemukan bahwa niat untuk menggunakan
kondom pada mahasiswa yang hendak melakukan one-night stand memiliki kaitan
yang kuat dengan kesadaran terhadap HIV/AIDS. Suatu niat untuk menggunakan
kondom di masa mendatang juga memiliki korelasi yang signifikan dengan
peningkatan efikasi diri untuk menggunakan kondom serta sikap positif terhadap
hubungan seks yang aman.
Terkait dengan peran keluarga, orang tua dapat membantu
membangkitkan kesadaran anaknya melalui pemberian penjelasan kepada anaknya
mengenai berbagai hal yang tepat mengenai HIV/AIDS. Usaha untuk memberikan
pengetahuan ini juga dapat memancing orang tua untuk mencari tahu lebih banyak
lagi agar mereka dapat memberikan informasi yang memadai dan tepat kepada
anaknya.
Pemberian informasi atau pengetahuan mengenai HIV/AIDS sejak
dini pada anak dan dilakukan dalam lingkungan keluarga akan dapat membantu
dalam mencegah anak melakukan berbagai tindakan yang memunculkan resiko terkena
HIV. Pengenalan sejak dini dalam lingkungan keluarga akan lebih mudah untuk
dilakukan oleh karena orang tua masih merupakan figur otoritas bagi anak.
Pemberian informasi sejak dini ini, selain agar anak dapat menghindari bahaya
HIV/AIDS dan mengembangkan pola hidup yang sehat di dalam keluarga, juga
diharapkan agar anak kelak dapat memunculkan perilaku yang tepat terhadap
penderita HIV/AIDS.
posted by : Dwi Lestari
email : duwilyu@gmail.com
blog : tentangmedis.blogspot.com
email : duwilyu@gmail.com
blog : tentangmedis.blogspot.com

0 komentar:
Posting Komentar