Proses menjadi tua ialah proses
alami yang tak mungkin dihindari oleh siapapun. Secanggih apapun penemuan di
bidang kedokteran dan kesehatan, sampai kapanpun tak akan pernah ditemukan obat
atau alat kedokteran untuk mencegah seseorang menjadi tua.
Konsekuensi dari proses penuaan
ialah penurunan secara perlahan fungsi tubuh dan menghilangnya kemampuan
jaringan untuk memperbaiki, mengganti diri, dan mempertahankan struktur dan
fungsi normalnya. Penuaan pada manusia ditandai dengan kehilangan lean body
mass yang biasanya sudah dimulai sejak usia 40 tahun disertai dengan
menurunnya metabolisme basal sebesar 2% yang kemudian disertai dengan perubahan
pada semua sistem dalam tubuh manusia.
Perubahan Panca Indera
Adanya perubahan panca indera ini
terutama sekali terjadi pada indera perasa akibat adanya papil-papil pada
permukaan lidah yang mengalami penyusutan. Akibatnya, penurunan
sensifitas pada rasa terutama manis dan asin terjadi sehingga akan memengaruhi
nafsu makan. Terjadinya pengurangan nafsu makan menyebabkan asupan gizi
terganggu. Biasanya, keadaan demikian terjadi ketika memasuki usia 70-an tahun
ke atas. Tak hanya itu, perubahan pada indera lainnya seperti indera penciuman,
penglihatan, dan pendengaran juga mengalami perubahan yang signifikan pada para
lanjut usia.
- Gangguan indera penglihatan (mata)
Mata adalah organ sensorik yang
mentransmisikan rangsang melalui jarak otak ke lobus okspital dimana rasa
penglihatan ini diterima. Sesuai dengan proses penuaan yang terjadi, tentu
banyak perubahan yang terjadi, diantaranya alis berubah kelabu, dapat menjadi
kasar pada pria dan menjadi tipis pada sisi temporalis baik pada pria maupun
wanita.
Konjungtiva menipis dan berwarna
kekuningan, produksi air mata oleh kelenjar lakrimalis yang berfungsi untuk
melembabkan dan melumasi konjungtiva akan menurun dancenderung cepat menguap,
sehingga mengakibatkan konjungtiva lebih kering.
Pada mata bagian dalam, perubahan
yang terjadi adalah ukuran pupil menurun dan reaksi terhadap cahaya berkurang
dan juga terhadap akomodasi. Lensa menguning dan berangsur-angsur menjadi lebih
buram mengakibatkan katarak, sehingga mempengaruhi kemampuan untuk menerima dan
membedakan warna-warna.
Kadang-kadang warna gelap seperti
coklat, hitam, dan marun tampak sama. Pandangan dalam area yang suram dan
adaptasi terhadap kegelapan berkurang (sulit melihat dalam cahaya gelap)
menempatkan lansia pada risiko sedera. Sementara cahaya menyilaukan dapat menyebabkan
nyeri dan membatasi kemampuan untuk, membedakan objek-objek dengan jelas, semua
hal itu dapat mempengaruhi kemampuan fungsional lansia.
- Perubahan struktur kelopak mata
Dengan bertambahnya usia akan
menyebabkan kekendoran seluruh jaringan kelopak mata. Perubahan ini juga
disebut dengan perubahan infolusional, terjadi pada:
- M. Orbikularis
- Perubahan pada M. orbicularis bisa menyebabkan perubahan kedudukan Palbebra, misalnya kelopak mata jatuh.
- Retraktor Palpebra inferior
- Kekendoran retractor palpebra inferior mengakibatkan tepi bawah tarsus rotasi / berputar kearah luar.
- Tarsus
- Apabila tarsus kurang kaku oleh karena proses atropi akan menyebabkan tepi atas lebih melengkung kedalam.
- Tendo Kantus medial / lateral
- Perubahan involusional pada usia lanjut juga mengenai tendon kantus medial / lateral sehingga secara horizontal kekencangan palpebra berkurang.
- Perubahan sistim lakrimal
Kegagalan fungsi pompa pada sistem kanalis lakrimalis
disebabkan oleh karena kelamahan palpebra, malposisi palpebra sehingga akan
menimbulkan keluhan epipora (sumbatan) Yang mengakibatkan kelenjar lakrimal
secara progresif berkurang.
- Proses penuaan pada kornea
Arcus senilis, merupakan manifestasi proses penuaan pada
kornea yang sering di jumpai. Ini memberikan keluhan. Kalaianan ini berupa
infiltrasi bahan lemak yang bewarna keputihan, berbentuk cincin dibagian tepi
kornea.
- Perubahan muskulus siliaris
Dengan bertambahnya usia, bentuk daripada muskuls siliaris
akan mengalami perubahan. Mengenai manifestasi klinis yang dikaitkan dengan
perubahan muskulus siliaris pada lanjut usia, dikatakan bahwa degenarasi
muskulus siliaris bukan merupakan faktor utama yang mendasari terjadinya
presbiofia. Ini dikaitkan dengan perubahan serabut-serabut lensa yang menjadi
padat, sehingga lensa kurang dapat menyesuaikan bentuknya. Untuk mengatasi hal
tersebut muskulus siliaris mengadakan kompensasi sehingga mengalami hipertrofi.
- Perubahan replaksi
Dengan bertambahnya usia penurunan daya akomdasi akan
menurun. Karena proses kekeruhan dilensa dan lensa cenderung lebih cembung.
- Perubahan struktur jaringan dalam bola mata
Semangkin bertambahnya umur nucleus makin membesar dan
padat, sedangkan volume lensa tetap, sehingga bagian kortek menipis,
elastisitas lensa jadi berkurang, indeks bias berubah (jadi lemah). Yang
mula-mula bening trasparan, menjadi tampak keruh (sclerosis).
- Perubahan fungsional
Proses degenerasi dialami oleh berbagai jaringan di dalam
bola mata, media refrakta menjadi kurang cemerlang dan sel-sel reseptor
berkurang, visus kurang tajam dibandingkan pada usia muda. Keluhan silau ( foto
fobi ) timbul akibat proses penuaan pada lensa dan kornea.
Masalah-masalah lainnya yang sering
muncul pada lansia dengan gangguan penglihatan adalah sfinter pupil timbul
sclerosis dan hilangnya respon terhadap sinar, kornea lebih berbentuk sferis
(bola), lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, susah melihat
dalam keadaan gelap, hilangya daya akomodasi.
- Gangguan indra pendengaran (telinga)
Berbagai pengertian mengenai
kelainan pendengaran dan organ yang berhubungan dengan gangguan pendengaran :
- Gangguan pendengaran tipe konduktif
gangguan yang bersifat mekanik, sebagai akibat dari
kerusakan kanalis auditorius, membran timpani atau tulang-tulang pendengaran.
Salah satu penyebab gangguan pendengaran tipe konduktif yang terjadi pada usia
lanjut adalah adanya serumen obturans, yang justru sering dilupakan pada
pemeriksaan.
- Gangguan pendengaran tipe sensori neural.
Penyebab utama dari kelainan ini adalah kerusakan neuron
akibat bising, presbiakusis, obat yang ototoksik, hereditas dan reaksi pasca
radang. Persepsi pendengaran abnormal Sering terdapat pada sekitar 50 % lansia
yang menderita presbiakusis, yang berupa suatu peningkatan sensitivitas
terhadap suara bicara yang keras.
- Gangguan terhadap lokalisasi suara.
Pada lansia sering kali sudah terdapat gangguan dalam
membedakan arah suara, terutama lingkungan yang agak bising.
Masalah-masalah lainya yang sering muncul adalah presbiakusis (hilangnya
kemampuan pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi atau
suara/nada yang tinggi suara yang tidak jelas dan sulit mengerti kata-kata,
membrane tympani menjadi atropi, terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras
karena meningkatnya keratin, pendengaran bertambah menurun.
- Ganggaun indra penciuman (hidung)
Pada sistem penciuman terjadi pembentukan kartilago yang
terus menerus terbentuk didalam hidung sesuai proses penuaan, menyebabkan
hidung menonjol lebih tajam. Atropi progresif pada tonjolan olfaktorius juga
terjadi, mengakibatkan kemunduran terhadap dalam indra penciuman. Masalah yang
sering terjadi pada lansia adalah gangguan pada penciuman terhadap bau-bauan.
- Gangguan indra pengecap (lidah)
Kurangnya sensasi rasa dikarenakan pengaruh sensori
persarafan. Ketidakmampuan mengidentifiksi rasa secara unilateral atau
bilateral. Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecapan,
hilangnya sensitifitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis dan
asin, hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap. Masalah yang sering timbul
pada lansia adalah kemapuan mengunyah yang semangkin menurun.
- Peraba.
- Kemunduran dalam merasakan sakit.
- Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin
Pusat Penanganan Trauma
Lanjut Usia (PPTLU) Tahun 2013
Salah
satu bukti keberhasilan pembangunan nasional utamanya di bidang kesehatan
adalah meningkatnya usia harapan hidup yang mana ditandai dengan meningkatnya
pula penduduk lanjut usia dari tahun ke tahun.
Dengan adanya peningkatan penduduk
lanjut usia tersebut, oleh Kementerian Sosial RI melalui Unit Pelayanan Teknis
(UPT) Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Gau Mabaji Gowa melaksanakan kegiatan
pelayanan dan rehabilitasi sosial lanjut usia. yang salah satu program
kegiatannya adalah Pusat Penanganan Trauma Lanjut Usia (PPTLU).
Pusat Penanganan Trauma Lanjut Usia
(PPTLU) merupakan model yang dikembangkan dalam sistem pelayanan sosial lanjut
usia , khususnya bagi lanjut usia dalam keadaan darurat seperti korban tindak
kekerasan atau perlakuan salah, korban bencana, terlantar dan bermasalah dengan
hukum serta masalah lainnya. Model ini dilaksanakan secara terpadu dan
konfrehensif dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan lanjut usia.
PPTLU ini merupakan tahun ke empat
program penanganan trauma lanjut usia yang setiap tahunnya membutuhkan
pembenahan untuk mencapai pelayanan yang maksimal. Penanganan terhadap lanjut
usia bukan untuk mencegah proses penuaan, tetapi mengarahkan agar lanjut usia
dapat menikmati masa tua dengan kualitas sesuai kondisi usianya. Pola
penanganan yang diberikan harus dari berbagai aspek yang terkait dengan lanjut
usia, seperti fisik, psikologis, sosial dan spiritual.
Aspek fisik yang ditandai dengan
melemahnya fungsi otak dan sistem saraf, panca indera (melihat, mendengar,
merasa, mencium, mengecap), sistem peredaran darah, sistem pernapasan, dan
seksualitas. Masalah kesehatan utama pada masa lanjut usia ialah munculnya
penyakit degeneratif (penyakit yang diakibatkan oleh proses penuaan) yang
dicirikan oleh gejala yang perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Hal
ini dapat terlihat dari kemandirian lanjut usia tersebut dalam kegiatan
kehidupan sehari-harinya. Selanjutnya perubahan sistem organ tubuh secara fisik
maupun fungsional, lanjut usia menjadi rentan terhadap kekurangan gizi
dibandingkan kelompok usia lebih muda, disebabkan oleh gangguan sistem
pencernaan termasuk pengunyahan serta gangguan kejiwaan seperti depresi
sehingga lanjut usia enggan makan.
Aspek psikologis dapat dilihat dari
adanya: perasaan sedih atau gembira (tanpa sebab yang jelas), perasaan
tertekan, perasaan takut, perasaan cemas, perasaan curiga, keinginan melakukan
kegiatan (motivasi) yang menurun (apatis), kepribadian, rasa percaya diri yang
menurun.
Aspek sosial adalah kemampuan
bersosialisasi dengan lingkungan, mengikuti pertemuan, rekreasi, dan
sebagainya. Selain itu, aspek lokasi, lingkungan, budaya, pekerjaan, status
perkawinan, pendidikan, dan jumlah anggota keluarga perlu diperhatikan dalam
memahami lanjut usia.
Aspek spiritual berkaitan dengan
penyerahan diri lanjut usia terhadap Sang Pencipta, lanjut usia dianggap telah
memiliki kematangan diri sehubungan dengan keberadaannya terhadap lingkungan
sekitarnya.
Sebuah
Harapan Lansia Sebagai Individu yang Mandiri dan Produktif
Keberadaan
Panti jompo akan sangat membantu para Lansia untuk hidup lebih sehat, bahagia,
dan panjang umur, juga membantu keluarga yang sibuk sehingga tidak memiliki
banyak waktu untuk mengurus Lansia yang ada dalam keluarganya. Dengan demikian
perlu adanya dorongan pada Pemerintah untuk dapat menambah baik kuantitas
maupun kualitas program di Panti jompo agar kualitas Lansia semakin meningkat
baik fisik maupun mental. Disamping pemerintah, sebaiknya juga melibatkan
anggota masyarakat lainnya yang memiliki keahlian khusus yang terkait dengan
kebutuhan program di Panti jompo yang berpartisipasi secara sukarela seperti;
dokter, ahli gizi, psikolog, perawat agar Lansia memperoleh pelayanan kesehatan
baik fisik maupun mental secara rutin, sehingga Lansia dapat hidup dengan sehat
lahir dan bathin. Ahli agama seperti ustad untuk yang muslim, pendeta untuk
yang beragama Kristen dan lainnya diperlukan kehadirannya ditengah-tengah
Lansia, agar kehidupan spiritualnya lebih baik, sehingga Lansia siap lahir dan
bathin dalam menghadapi masa tua dan menghadapi kematian. Guru di bidang
keterampilan seperti guru keterampilan tata busana, tata boga, pertanian dll,
diperlukan agar kegiatan yang dilakukan di Panti jompo tidak membosankan dan
para Lansia. Instruktur olah raga, sangat diperlukan agar para Lansia selalu
bugar karena mengikuti kegiatan olah raga dengan benar sesuai dengan tahapan
usianya. Apabila Lansia yang ada di Indonesia sudah dapat mendiri dan produktif
maka tidak seharusnya kita khawatir dengan keberadaannya, tetapi justru bangga
akan kehadirannya sebagai seseorang yang dapat dijadikan panutan, agen
perubahan yang memiliki sumber daya yang bisa dijadikan contoh oleh generasi
seterusnya.
Perubahan Fisiologi yang Berhubungan
dengan Aspek Gizi pada Lansia
- Semakin berkurangnya indera penciuman dan perasa sehingga umumnya lansia kurang dapat menikmati makanan dgn baik. Hal itu sering menyebabkan kurangnya asupan atau penggunaan bumbu, seperti kecap atau garam yang berlebihan berdampak kurang baik bagi kesehatan lansia. (Krause dan Katahunleen (1984)
- Berkurangnya sekresi saliva yang dapat menimbulkan kesulitan dalam menelan dan dapat mempercepat terjadinya proses kerusakan pada gigi (Webb & Copeman, 1996)
- Kehilangan gigi. Separuh lansia banyak kehilangan gigi, hal ini mengakibatkan terganggunya kemampuan dalam mengkonsumsi makanan dengan tekstur keras, sedangkan makanan yang lunak kurang mengandung vit A, vit C, dan serat sehingga menyebabkan mudah mengalami konstipasi. (Rusilanti , 2006)
- Menurunnya Sekresi HCL. HCL merupakan faktor ekstrinsik yang membantu penyakiterapan vit B 12 dan kalsium, serta utilisasi protein. Kekurangan HCL dapat menyebabkan lansia mudah terkena osteoporosis, defisiensi zat besi yang menyebabkan anemia, sehingga oksigen tidak dapat diangkut dengan baik.
- Menurunnya sekresi pepsin dan enzim proteolitik yang mengakibatkan pencernaan protein tidak efisien.
- Menurunnya sekresi garam empedu, sehingga mengganggu proses penyakiterapan lemak dan vitamin A,D,E,K.
- Menurunya motilitas usus, sehingga memperpanjang “transit time” dalam saluran gastrointestinal mengakibatkan pembesaran perut dan konstipasi. (Rusilanti , 2006)
Peran Dan Fungsi Perawat Dalam
Keperawatan Gerontik
- Sebagai pemberi askep langsung
Berupa bantuan kepada klien lanjut
usia yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sebagai akibat Proses penuaan,
meliputi;
- Menegakkan diagnose keperawatan berdasarkan analisis dari hasil pengkajian.
- Merencanakan intervensi keperawatan untuk mengatasi kesenjangan atau langkah2/cara penyelesaian masalah dari lanjut usia baik bersifat actual maupun resiko.
- Melaksanakan rencana yang yelah disusun.
- Mengevaluasi berdasarkan respon verbal dan non verbal klien lansia terhadap intervensi yang dilakukan.
- Sebagai pendidik klien yaitu membantu meningkatkan pengetahuan klien lanjut usia untuk Memahami pemenuhan kebutuhannya.
- Sebagai motivator yaitu memotivasi klien lanjut usia yang kurang memiliki kemampuan untuk Memenuhi kebutuhannya .
- Sebagai advokasi klien yaitu memberi advokasi terhadap klien lanjut usia dalam pemenuhan Kebutuhannya.
- Sebagai konseler yaitu memberikan konseling terhadap klien lanjut usia agar mampu beradap Tasi secara optimal terhadap proses penuaan yang terjadi.
Tanggung jawab perawat gerontik
- Membantu klien memperoleh kesehatan secara optimal
- Membantu klien untuk memelihara kesehatannya
- Membantu klien menerima kondisinya [lansia]
- Membantu klien menghadapi hari akhirnya dengan tenang
Sifat pelayanan yang diberikan
perawat kepada lansia
- Independent/mandiri artinya asuhan keperawatan dilakukan secara mandiri oleh profesi Keperawatan dalam membantu lanjut usia dalam pemenuhan kebutuhan dasar lanjut usia.
- Independent atau kolaboratif artinya saling menunjang dengan disiplin lain dalam mengatasi Masalah kesehatan lanjut usia.
- Humanistik artinya didasarkan nilai-nilai kemanusiaan dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap lansia.
- Holistik lanjut usia merupakan bagian masyarakat dan keluarga sehingga asuhan keperawatan Gerontik harus memperhatikan aspek social budaya keluarga dan masyarakat.
Upaya yang dilakukan perawat untuk
meningkatkan hubungan interpersonal dan komunikasi dengan lansia, antara lain :
- Berkomunikasi dengan mempertahankan kontak mata.
- Memberikan stimulus / mengingatkan lansia terhadap kegiatan yang akan dilakukan
- Memberikan kesempatan untuk mengekspresikan
- Menghargai pendapat lansia.
- Melibatkan lansia dalam kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan
Nama : Zeni Toyyibatus Sa'diyah
Email : Ztoyyibatus@gmail.com
Blog : Perawateksis12.blogspot.com

Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi. Perkembangan psikologi manusia sekarang ini harus sangat diperhatikan agar mereka tidak berkembang dengan mental yang salah. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai psikologi yang dapat dilihat di www.ejournal.gunadarma.ac.id
BalasHapus