PENGERTIAN
Gerontik adalah Gerontologi+Geriatrik.
Gerontologi
adalah cabang ilmu yang membahas atau menangani tentang proses penuaan
dan masalah yang timbul pada orang yang berusia lanjut.
Geriatrik
adalah berkaitan dengan penyakit atau kecacatan yang terjadi pada orang
yang berusia lanjut. Geriatrik Nursing adalah praktek keperawatan yang
berkaitan dengan penyakit pada proses menua (Kozier, 1987).
Keperawatan
Gerontik adalah suatu pelayanan profesional yang berdasarkan ilmu dan
kiat atau teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosial-spiritual
dan kultural yang holistik yang ditujukan pada klien lanjut usia baik
sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat. Ilmu yang mempelajari tentang perawatan pada lanjut usia
(Kozier, 1987).
PROSES MENUA
Ø PENGERTIAN PROSES MENUA
Aging process atau
proses menua merupakan suatu proses biologis yang tidak dapat
dihindarkan, yang akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah suatu
proses menghilangnya secara perlahan-lahan (graduil) kemampuan jaringan
untuk memperbaiki diri atau menggantikan dan mempertahankan struktur
fungsi secara normal, ketahanan terhadap injury termasuk adanya infeksi
(Paris Constantinides, 1994). Proses menua sudah mulai berlangsung sejak
seseorang mencapai dewasa, misalnya dengan terjadinya kehilangan
jaringan pada otot, susunan syaraf dan jaringan lain sehingga tubuh mati
sedikit demi sedikit. Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat
tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak maupun saat
menurunnya. Namun umumnya fungsi fisiologis tubuh mencapai puncaknya
pada umur 20-30 tahun.
Ø TEORI-TEORI PROSES PENUAAN
1. Teori biologis
Teori
biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsik dan
ekstrinsik. Intrinsik berarti perubahan berkaitan dengan usia timbul
akibat penyebab di dalam sel sendiri, sedangkan teori ekstrinsik
menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi diakibatkan penngaruh
lingkungan. Teori biologis dibagi dalam:
1) Teori Genetik Clock
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetic untuk spesies-spesies tertentu.
2) Teori Error Catastrophe (Teori Mutasi Somatik)
Menua disebabkan kesalahan yang beruntun dalam jangka waktu yang lama dalam transkripsi dan translasi.
3) Teori Auto Imune
Di
dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi zat khusus.
Sebagai contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada usia dewasa
berinvolusi dan semenjak itu terjadilah kelainan autoimun (Godteris
& Brocklehurst, 1989).
4) Teori Radikal Bebas
Radikal
bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas
(kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik
seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak
dapat beregenerasi.
5) Pemakaian dan Rusak
Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (rusak).
6) Teori “imunology slow virus” (imunology slow virus theory)
Sistem
imune menjadi kurang efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya
virus kedalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
7) Teori Stres
Menua
terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi
jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal,
kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
8) Teori Rantai Silang
Sel-sel
yang tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat,
khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis,
kekakuan dan hilangnya fungsi.
9) Teori Program
Kemampuan organinisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.
2. Teori kejiwaan sosial
1) Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
Menurut
Havighusrst dan Albrecht, 1953 berpendapat bahwa sangat penting bagi
individu usia lanjut untuk tetap aktivitas dan mencapai kepuasan hidup.
2) Kepribadian berkelanjutan (continuity theory)
Teori
ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut
usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
3) Teori pembebasan (disengagement theory)
Teori
ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara
berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya.
2. Teori psikologi
Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah satu teori yang ada.
3. Teori kesehatan genetik
dr.
Afgel berpendapat bahwa proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan
sel genetik DNA dimana sel genetik memperbanyak diri (ada yang
memperbanyak diri sebelum pembelahan sel) sehingga mengakibatkan
kesalahan-kesalahan yang berakibat pula dengan terhambatnya
kesalahan-kesalahan yang berakibat pula dengan terhambatnya pembentukan
sel berikutnya sehingga mengakibatkan kematian sel.
4. Rusaknya sistem imun tubuh
Mutasi
yang terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan sistem imun untuk
mengenali dirinya berkurang (self recognition) menurun mengakibatkan
kelainan pada sel, dianggap sel asing sehingga dihancurkan perubahan
inilah terjadinya peristiwa auto imun.
5. Teori menua akibat metabolisme
Pada
zaman tempo dulu pendapat tentang tua : botak, mudah bingung,
pendengaran sangat menurun atau menyebut mereka “budeg”, menjadi bungkuk
dan sering dijumpai kesulitan dalam menahan buang air kecil : beseran
atau inkontinensia urin.
Ø MITOS-MITOS LANJUT USIA DAN REALITANYA
1) Mitos kedamaian dan ketenangan
Pada
usia lanjut dapat santai menikmati hasil kerja dan jerih payahnya pada
usia muda serta dewasanya. Badai dan berbagai guncangan kehidupan seakan
akan sudah dilewati. Kenyataan sebaliknya usia lanjut penuh dengan
stress karena kemiskinan dan berbagai keluhan serta penderitaan karena
penyakit.
2) Mitos konservatisme dan kemunduran pandangan
Diusia
lanjut pada umumnya adalah: konservatif, tidak kreatif, menolak
inovasi, berorientasi ke masa silam, ketinggalan jaman, merindukan masa
lalu, kembali ke masa anak-anak, susah berubah, keras kepala dan bawel.
Kenyataan tidak semua lansia bersifat dan berperilaku demikian. Sebagian
tetap tegar berpandangan ke depan dan inovatif serta kreatif.
3) Mitos berpenyakitan
Pada
lanjut usia dipandang sebagai masa degeneratif biologis yang disertai
oleh berbagai penderita akibat berbagai proses penyakit.kenyataannya
memang proses menua disertai dengan menurunnya daya tahan tubuh serta
metabolisme sehinnga rawan terhadap penyakit,tetapi masa sekarang banyak
penyakit yang dapat dikontrol dan diobati.
4) Mitos senilitas
Usia
lanjut dipandang sebagai masa dimensia (pikun) yang disebabakan oleh
kerusakan bagian tertentu dari otak. Kenyataannya tidak semua usia
lanjut dalam proses penuaan disertai kerusakan pada otak. Mereka masih
tetap sehat dan segar dan banyak cara untuk menyesuaikan diri terhadap
perubahan daya ingat
5) Mitos ketidakproduktifan
Pada
usia lanjut dipandang sebagai usia yang tidak produktif. Kenyataan
tidak demikian,masih banyak usia lanjut yang mencapai kematangan dari
produktivitas mental dan materialnya yang tinggi.
Ø PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA
1. Perubahan kondisi fisik
Meliputi
perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ tubuh,
diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler,
sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito
urinaria, endokrin, dan integuman, dan masalah-masalah fisik sehari-hari
yanng sering ditemukan pada lansia adalah sebagai berikut:
· Mudah jatuh
· Mudah lelah
· Kekacauan mental akut
· Nyeri pada dada, berdebar-debar
· Sesak nafas pada saat melakukan aktivitas kerja fisik
· Pembengkakan pada kaki bawah
· Nyeri pinggang atau punggung dan sendi pinggul
· Sulit tidur dan sering pusing-pusing
· Berat badan menurun
· Gangguan pada fungsi penglihatan, pendengaran, dan sukar menahan air kencing
2. Perubahan kondisi mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kondisi mental:
1) Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa
2) Kesehatan umum
3) Tingkat pendidikan
4) Keturunan (hereditas)
5) Lingkungan
6) Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian
7) Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan
8) Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman atau famili
9) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri
3. Perubahan psikososial
Perubahan mendadak dalam kehidupan rutin barang tentu membuat mereka merasa kurang melakukan kegiatan yang berguna antara lain:
1) Minat
Pada
umumnya diakui bahwa minat seseorang berubah dalam kuantitas maupun
kualitas pada masa lanjut usia. Lazimnya minat dalam aktivitas fisik
cenderung menurun dengan bertambahnya usia.
2) Isolasi kesepian
Makin
menurunnya kualitas organ indera yang mengakibatka ketulian,
penglihatan yang makin kabur, dan sebagainya. Selanjutnya membuat orang
lanjut usia merasa terputus dari hubungan dengan orang-orang lain.
Dengan
makin lanjutnya usia, kemampuan mengendalikan perasaan dengan akal
melemah dan orang cenderung kurang dapat mengekang dari dalam
perilakunya.
3) Peranan iman
Namun
demikian, hampir tidak dapat disangkal lagi bahwa iman yang teguh
adalah senjata yanng paling ampuh untuk melawan rasa takut terhadap
kematian. Usia lanjut memang merupakan masa dimana kesadaran religius
dibangkitkan dan diperkuat.
4. Perubahan kognitif
1) Kemunduran umumnya terjadi pada tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan dan tugas yang memerlukan memori jangka pendek.
2) Kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran.
3) Kemampuan verbal dalam bidang vokabular (kosakata) akan menetap bila tidak ada penyakit.
5. Perubahan spiritual
1) Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970)
2) Lanjut
usia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam
berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970)
3) Perkembangan
spiritual pada usia 70 tahun menurut Fowler: Universalizing,
perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berfikir dan bertindak
dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan keadilan.
PERUBAHAN KOGNITIF PADA MANULA ”SEHAT”
Perubahan
intelek, memori dan variable psikologi lainnya sudah banyak diteliti
pada manula yang “normal”. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan
didapatkan beberapa hal :
1. Kinerja
intelektual sebagaimana yang diukur dengan tes kemampuan verbal dalam
bidang vokabular (kosa kata), informasi dan komprehensi mencapai
puncaknya pada usia 20-30 tahun dan kemudian menetap sepanjang hidup,
setidak-tidaknya sampai usia pertengahan 80-an tahun, bila tidak ada
penyakit.
2. Kemampuan
melaksanakan tugas yang diberi batas waktu, yang terkait waktu, yang
membutuhkan kecepatan, misalnya kecepatan mengolah informasi, mencapai
puncaknya pada usia sekitar 20 tahun, kemudian menurun lambat laun
sepanjang hidup.
Walaupun
sebagaian dari penurunan kecepatan ini diakibatkan oleh perubahan dalam
bidang motorik dan kemampuan persepsi, didapat bukti bahwa kecepatan
pemrosesan di pusat saraf menurun dengan meningkatnya usia. Perubahan
ini dialami oleh hamper semua orang yang mencapai usia 70-an. Namun
didapatkan juga penyimpangan, yaitu beberapa orang usia 70 tahun
melaksanakannya lebih baik daripada yang berusia 20 tahun. Kemunduran
terdapat pada performance terutama pada tugas yang membutuhkan kecepatan
dan juga pada tugas yang memerlukan memori jangka pendek.
MEMORI (DAYA INGAT, INGATAN)
Pelupa
merupakan keluhan yang sering dikemukakan oleh manula. Keluhan ini
dianggap lumrah dan biasa oleh masyarakat disekitarnya. Keluhan ini
didasarkan atas fakta. Dari penelitian “cross-sectional” dan
longitudinal didapatkan bahwa kebanyakan-namun tidak semua-individu
mengalami gangguan memori dan belajar dengan melanjutnya usia, terutama
setelah usia 70 tahun.
Namun,
kemunduran daripada sub-sistem yang membangun proses memori dan
belajar, tidak serupa tingkat kemundurannya. Memori merupakan proses
yang rumit. Memori menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Banyak
jenis memori yang diketahui, misalnya memori jangka pendek dan jangka
panjang, memori verbal dan visuospatial; memori olfaktoar, auditoar,
taktil dan kinestetik.
Ø Proses memori
Proses perekaman dan pemanggilan informasi yang diingat dapat disederhanakan sebagai berikut:
Input informasi à registrasià enkodingà storage (penyimpanan)à pemanggilan (retrieval)à output informasi.
Ø Encoding
Agar
suatu informasi dapat disimpan perlu diperhatikan,di registrasi. Ini
merupakan tingkat pertama. Informasi ini kemudian ditransfer kedalam
memori, disebut encoding.
Kondisi
encoding ikut mempengaruhi daya atau tingkatan penyimpanan, misalnya :
encoding semantic (menyimpan menurut makna, arti) biasanya memberikan
memori yang lebih mantap daripada encoding fonologis (menyimpan menurut
bunyi).
Ø Penyimpanan (storage)
“storage”
merupakan prosses dimana informasi dipertahankan dalam memori. Ini
bukan merupakan penyimpanan informasi yang statis. Jaringan informasi
ini ditata kembali secar aktif.
Informasi
akan lebih kuat tersimpan bila digunakan berkali-kali, suatu proses
yang disebut konsodilasi. Penyimpanan berbagai informasi ini
berbeda-beda, misalnya memori semantic, memori episodic, memori
deklaratif, memori procedural. Contoh :
Mengetahui apa yang saya makan waktu sarapan pagi, ini adalah memori episodic.
Mengetahui arti kata sarapan, yaitu makan pagi, merupakan kemampuan sematik.
Kedua jenis memori ini dapat pula disebut memori deklaratif (memori dari fakta-fakta).
Memori
procedural ialah memori suatu skill dan rutin. Misalnya mengetahui
bagaimana menyetir mobil merupaakan memori procedural. Mengetahui
bagaimana mesin mobil bekerja merupakan memori deklaratif.
Ø Retrieval (memanggil kembali, recall)
Retrieval
merupakan proses dimana informasi dipanggil kembali dari memori. Memori
dapat pula dibagi dari segi waktu, yaitu : memori seketika, jangka
pendek, baru dan jangka panjang. Pada memori seketika (immediate) subyek
memanggil kembali stimulus yang diberikan padanya beberapa menit
sebelumnya. Fungsi memori ini terganggu pada derilium. Memori jangka
pendek (short term) mencakup kejadian selama 30 menit terakhir. Memori
ini terganggu pada sindrom amnesia. Memori baru (recent) mencakup
kejadian antara 30 menit sebelumnya sampai beberapa minggu. Memori ini
dapat terganggu pada berbagai keadaan, misalnya delirium, sindrom
amnesia dan demensia. Memori jangka panjang (remote) mencakup kejadian
yang lebih lama dari beberapa minggu lalu.
KEMAMPUAN INTELEKTUAL PADA LANSIA
Dari
penelitian diketahui bahwa hidup maksimal yang dapat dicapai manusia
adalah 116-120 tahun. Tiap kemunduran intelektual sebelum usia 50 tahun
adalah abnormal atau patologis.
Menurut
david Wechsler dalam Desmita (2008) kemunduran kemampuan mental
merupakan bagian dari proses penuaan organisme sacara umum, hampir
sebagian besar penelitian menunjukan bahwa setelah mencapai puncak pada
usia antara 45-55 tahun, kebanyakan kemampuan seseorang secara terus
menerus mengalami penurunan, hal ini juga berlaku pada seorang lansia.
Dari
penelitian diketahui bahwa ada fungsi otak yang sedikit saja mengalami
perubahan atau tidak mengalami perubahan dengan melanjutnya usia,
misalnya dalam menyimpan (storage) informasi. Namun dengan melanjutnya
usia didapatkan penurunan yang kontinyu daripada kecepatan belajar,
kecepatan memproses informasi baru dan kecepatan bereaksi terhadap
stimulus sederhana atau kompleks.
Ketika
lansia memperlihatkan kemunduran intelektualiatas yang mulai menurun,
kemunduran tersebut juga cenderung mempengaruhi keterbatasan memori
tertentu. Misalnya seseorang yang memasuki masa pensiun, yang tidak
menghadapi tantangan-tantangan penyesuaian intelektual sehubungan dengan
masalah pekerjaan, dan di mungkinkan lebih sedikit menggunakan memori
atau bahkan kurang termotivasi untuk mengingat beberpa hal, jelas akan
mengalami kemunduran memorinya. Kemerosotan intelektual lansia ini pada
umumnya merupakan sesuatau yang tidak dapat dihindarkan, disebabkan
berbagai faktor, seperti penyakit, kecemasan atau depresi
Ø Ganggu Intelektual
Gangguan
intelektual yang berlangsung progresif disebut demensia, muncul secara
perlahan tetapi progresif (biasanya selang bulanan hingga tahunan).
Demensia merupakan kelainan yang paling ditakuti dikalangan lansia,
meskipun kelainan ini tidak tampak keberadaannya. Usia jompo sendiri
bukanlah penyebab langsung demensia, tetapi demensia merupakan gangguan
penyerta akibat perubahan-perubahan yang berlangsung pada system saraf
pusat. Selanjutnya gangguan depresi juga merupakan factor penyebab
kemunduran intelektual yang cukup sering ditemukan, namun sering kali
terabaikan. Kejadian depresi ini terdapat pada 5-10% lansia dalam suatu
komunitas. Timbulnya depresi disebabkan oleh adanya suasana hati yang
bersifat depresi yang berlangsung sekurang-kurangnya dua minggu yang
disertai keluhan-keluhan vegetative (berupa gangguan tidur, penurunan
minat, perasaan bersalah, merasa tidak bertenaga, kurang konsentrasi
hilangnya nafsu makan, gejala psikomotor, hingga keinginan bunuh diri).
Ø Upaya mengatasi kekurangan mental dan memperlambat perburukan pada menua yang normal
Kita
mengetahui bahwa beberapa kemampuan mental menurun dengan melanjutkan
usia, misalnya memori jangka pendek dan kecepatan melakukan tugas-tugas
tertentu. Upaya apakah yang dapat menetralisir keadaan ini. Ada beberapa
upaya yang dapat dilakukan :
1. Membawa catatan kecil,untuk menulis janji yang harus ditepati, nomer telepon yang penting dan sebagainya.
2. Menyusun
informasi yang akan diingat. Waktu kita di bangku sekolah atau di
fakultas, pelajaran yang kita harus hafal kita buat ringkasannya, kita
atur dan susun agar mudah mengingatnya. Kita ciptakan kaitan-kaitan atau
singkatan-singkatan. Contoh : gejala lumpuh ferifer ialah 3A (Atrofi,
Atoni, Arefleksia),di hari tua, teknik ini dapat digunakan.
3. Memakai
imajinasi visual, mengaitkan dengan objek yang sudah di kenal. Bila
kita harus mengingat nama kota madras, kita kaitkan dengan kata
madrassah, kita bayangkan madrasah kemudian kita masukkan ke ingatan
kita.
4. Meningkat
kan kemampuan konsentrasi dan memusatkan perhatian. Bila kita kurang
konsentrasi dan kurang memusatkan perhatian tentulah apa yang di dengar
dan dilihat lebih mudah terlupakan.
5. Menempatkan
benda di tempat tertentu, sehingga mudah di ingat. Misalnya : kita
sering lupa dimana kita menaruh kunci mobil atau kaca mata. Begitu
banyak waktu terbuang untuk mencari nya karena lupa dimana diletakkan.
Hal ini dapat diatasi bila kita membuat kebiasaan untuk menempatkan
kunci mobil atau kacamata di satu tempat.
Ø Mengupayakan agar kemampuan memori dan kognitif dapat dipertahan kan dan tidak merosot
Penelitian
mengenai hal ini belum banyak. Namun banyak ahli mendapat kesan bahwa
bila kita latih otak kita, kita sibukkan otak kita, maka kemunduran
mental dapat diperlambat. Kita kenal ungkapan-ungkapan seperti: “train
your brain” use it, or you loose it”!
Manula
umumnya masih dapat melakukan lebih bnyak dari pada biasanya diharapkan
dari mereka. Bila mereka ingin memelihara kemampuan nya, kemampuan ini
harus selalu di gunakan. Sering tugas yang dilakukan nya belum
menggunakan kemampuan nya secara optimal. Latihan-latihan dapat membantu
keadaan ini. Menua secara normal bukan lah berarti terjadinya
degenerasi kepribadian, namun, inaktifitas dan menganggur terus menerus
mengandung bahaya yang dapat mengakibatkan desintegrasi kepribadian.
Kemampuan memori dapat ditingkat kan melalui latihan misalnya :
1. Konsentrasi
2. Melatih memori jangka pendek
3. Mereproduksi
4. Memformulasi
5. Asosiasi
6. Mengenal
7. Mengisi teka teki silang
8. Megikuti kuis yang ditayangkan di televise
9. Jangan lupa memelihara kesehatan
AKTIVITAS MENTAL
Aktivitas
mental juga sama pentingnya dengan aktivitas fisikdalam mencapai
penuaan yang sukses. Banyak aktivitas yang banyak dilakukan oleh lansia
akan menolong pikiran mereka untuk tetap aktif dan membantu
merekamengembangkan intelektualnya lebih jauh lagi. Bahkan, bukti
menunjukkan bahwa lansia yang mendapatkan lebih banyak edukasi dan
stimulasi mental memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menderita
demensia type Alzheimer, atau setidaknya perkembangan demensia dapat
ditunda.
Lansia
yang aktif dan sehat dapat terus belajar dan dapat dimotivasi untuk
menyelesaikan pendidikan tinggi atau memulai pendidikan yang baru.
Dengan adanya peningkatan rentang usia mahasiswa setiap tahun, mahasiswa
yang berusia 50-60, atau 70 tahun tidak akan merasa terasing dari dunia
kampus. Beberapa universitas menawarkan pengurangan biaya kuliah untuk
mahasiswa yang berusia 55 tahun keatas. Program untuk lansia pada
pendidikan tinggi dan universitas menawarkan pendidikan selama musim
panas dan kursus singkat dengan biaya minimal untuk lansia yang senang
bepergian ke daerah-daerah lain selama musim panas.
Tren
yang lain adalah berbagai karir seumur hidup. Seseorang dapat berhenti
dari suatu karir pada usia 40 tahun setelah bekerja 20 tahun dan pensiun
dari karir yang kedua pada usia 60 tahun setelah 20 tahun bekerja.
Orang ini dapat dengan mudah menghabiskan 20 tahun lagi pada karir yang
ke-3. Lansia yang lain lebih senang untuk menghabiskan waktu dengan
membaca buku-buku baru, belajar bahasa asing, atau mengambil pelajaran
musik. Mempelajari ketrampilan-ketrampilan tekhnis ini pada usia 70
tahun mungkin tidak semudah belajar seperti pada usia 10 tahun, tetapi
hal ini mungkin terjadi pada lansia yang aktif dan memiliki motivasi
tinggi.
FUNGSI KOGNITIF LEBIH TINGGI
Wawancara
harus diawali dengan pertanyaan yang berkenaan dengan kepentingan
pasien. Cara pengawalan seperti ini membantu pewawancara mengetahui
kemampuan ingatan pasien dan menghilangkan ansietas.
Pertanyaan-pertanyaan pengenalan yang mengekspresikan minat terhadap
pasien selaku seorang manusia, seperti pertanyaan mengenai jabatan,
anak-anak, cucu, dan hobi, seringkali mendorong timbulnya
respons-respons yang mengindikasikan tingkat fungsi mental dan fungsi
sosial pasien saat ini serta tingkat fungsi terdahulunya. Penampilan
menyeluruh dan cara berpakaian, postur, prilaku, wicara, dan pilihan
kata dan memberikan masukan bagi pengamat secara seksama. Pemeriksa
harus selalu sadar akan kemungkinan terjadinya penurunan kemampuan
pendengaran dan penglihatan, yang menandakan terjadinya gangguan
kognitif.
Seorang
pasien lansia pada saat pertama kali bertemu seorang dokter atau
perawat mungkin akan merasa cemas mengenai hasil pertemuan yang negatif.
Pasien mungkin akan datang untuk diwawancarai dengan rasa enggan atau
mungkin malah dipaksa oleh keluarga atau tetangga. Pasien mungkin kuatir
bila nantinya dokter atau perawat akan menentukan bahwa dia “gila”.
Bahkan dalam lingkungan yang bebas ancaman pun, wawancara tersebut dapat
menyebabkan ansietas, mengakibatkan terjadinya kebingungan yang jelas
terekam, ketidakakuratan atau ketidaklengkapan laporan informasi, dan
kinerja yang buruk saat pengujian. Terciptanya rasa takut akan
terjadinya kesalahan, dan pasien mungkin akan enggan untuk melakukan
tugas-tugas yang diminta. Gangguan-gangguan ingatan dan intelegensia
yang terjadi selama pemeriksaan mungkin cenderung merupakan suatu
refleksi stres fisik dan depresi dan bukan akibat atau gejala
terjadinnya demensia.
Nama : Lailatun Nafiah
Email : Lailatunnafiah04@gmail.com

0 komentar:
Posting Komentar