Ada beragam gangguan
pencernaan yang perlu kita ketahui supaya kita lebih waspada dan bisa melakukan
usaha-usaha pencegahan. Salah satu gangguan pada pencernaan yang cukup berbahaya
jika dibiarkan berlanjut adalah muntaber.
Muntaber merupakan
gangguan pencernaan yang menyebabkan seseorang mengalami muntah dan berak
secara bersamaan atau terpisah dan berkali-kali sehingga penderita dapat
kehabisan cairan di dl tubuh . Jika gangguan pencernaan yang satu ini tidak
segera diatasi maka bisa dengan cepat membawa seseorang pada kondisi yang
membahayakan jiwanya.
Muntaber merupakan salah
satu penyakit yang paling sering di derita oleh masyarakat Indonesia selain
penyakit pernapasan, kulit dan paru, dan bisa di derita oleh siapa saja, tanpa
memandang status sosial ekonomi, umur, mulai dari bayi sampai lansia, semua
bisa saja terkena muntaber.
Mengapa Perlu Mewaspadai Muntaber
Bahaya utama dari penyakit
muntaber adalah kehilangan cairan yang terlalu cepat, terutama pada anak-anak.
Kehilangan cairan yeng berlebihan dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi
(kekurangan cairan) dan bisa berakibat fatal jika tidak segera diatasi.
Muntaber ini jauh lebih berbahaya dibanding jika seseorang hanya menderita
diare (mencret) saja atau muntah saja. Apalagi jika muntah dan berak yang
dialami lebih dari empat kali dalam sehari dan disertai dengan demam tinggi.
Jika tidak segera ditangani, penderita muntaber dapat mengalami syok bahkan
kematian.
Dehidrasi adalah dimana
tubuh kita mulai kekurangan cairan karena kurangnya asupan air ke dalam tubuh
total, berupa hilangnya air lebih banyak dari yang masuk ke dalam tubuh.
Dehidrasi tidak bisa
dianggap sepele, sering kali kita tidak menyadari bahwa kita telah mengalami
dehidrasi. Sebelum tanda-tanda dehidrasi disadari, banyak fungsi tubuh yang
meliputi sel, jaringan, dan organ yang sudah banyak terganggu.
Mengenali Tanda-Tanda Dehidrasi
Ada 3 jenis dehidrasi
untuk melihat sejauh mana tingkat keparahan akibat kekurangan cairan dan supaya
cepat mendapat penanganan. Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan
kriteria berikut ini :
Dehidrasi ringan : keadaan
umum baik (masih bisa beraktifitas biasa), rasa hausnya masih normal, air
kencing normal, ada air mata, mata tidak cekung, mulut/lidah basah, nafas
normal, jika kulit dicubit akan kembali dengan cepat, denyut nadi normal,
ubun-ubun normal/tidak cekung (pada anak).
Dehidrasi sedang : tampak
sakit, mengantuk, lesu, gelisah, rasa hausnya berlebih, air kencing sedikit
gelap (keruh), air mata kurang, mata cekung, mulut/lidah kering, nafas agak
cepat, jika kulit dicubit akan kembali dengan lambat, denyut nadi agak cepat,
ubun-ubun cekung (pada anak).
Dehidrasi berat : sangat
mengantuk, tidak sadar, lemah, tidak dapat minum, tidak ada air kencing dalam
waktu 6 jam, air mata tidak keluar, mata kering dan sangat cekung, mulut/lidah
sangat kering, nafas cepat dan dalam, jika kulit dicubit akan kembali dengan
sangat lambat (lebih dari dua detik), denyut nadi sangat cepat, lemah, dan
tidak teraba, ubun-ubun sangat cekung (pada anak).
Gejala klinis yang paling
spesifik dapat dievaluasi adalah adanya penurunan berat badan akut lebih dari
3% dari berat badan awal. Gejala klinis lainnya yang dapat membantu
identifikasi kondisi dehidrasi adalah hipotensi saat berdiri
Mengenali tanda-tanda awal
dehidrasi :
• Merasa lelah tanpa
alasan
• Merasa terbakar, wajah
memerah
• Merasa mudah tersinggung
dan marah tanpa alasan
• Merasa gelisah
• Merasa terkucilkan dan
tidak cukup baik
• Merasa depresi
• Merasa kepala
berat/sempoyongan
• Gangguan tidur, terutama
orang tua
• Rasa tak sabar yang
tidak jelas
• Rentang perhatian
(fokus) yang amat sempit
• Pendek nafas pada orang
sehat tanpa penyakit paru atau infeksi
• Mencari minuman, seperti
kopi, teh, soda, dan alkohol
• Mimpi tentang
laut,sungai, hal-hal yang bersumber air
Apa Yang Menjadi Penyebab Muntaber
Muntaber bisa disebabkan
oleh kuman (bakteri, atau virus), alergi, keracunan dan lain sebagainya.
Muntaber dapat disebabkan sebelumnya penderita terkena infeksi saluran nafas
atau infeksi saluran kencing atau penyakit tipus. Tetapi yang paling sering
menjadi menyebabkan muntaber adalah bakteri E. coli yang menyerang usus.
Biasanya muntaber terjadi karena seseorang mengkonsumsi makanan yang sudah
tercemar dengan bakteri E. coli.
E. coli adalah nama
bakteri yang paling dikenali oleh orang awam diantara nama-nama bakteri
lainnya. Dia adalah penyebab penyakit muntaber yang seringkali menimbulkan
ledakan kasus ( outbreak ) di suatu daerah. E. coli yang merupakan penyingkatan
dari Escherichia coli sebenarnya adalah bakteri yang sudah ada di dalam tubuh
manusia khususnya di dalam sistem pencernaan dan tidak menimbulkan penyakit.
Kenali Gejalanya
Bakteri yang masuk ke
dalam saluran cerna lewat makanan yang telah tercemar akan menimbulkan radang
pada saluran cerna sehingga muncul gejala seperti sakit perut, kembung, mual
dan muntah-muntah. Muntaber juga dapat disertai dengan gejala demam tinggi
(mencapai 38°C atau lebih), kepala pusing, tidak nafsu makan, lemas, dan elastisitas
kulit menurun. Beberapa anak bahkan mengalami halusinasi jika sudah mencapai
taraf kekurangan cairan elektrolit dalam tubuh.
Cara Mengatasi Dehidrasi
Usaha pertama untuk
menolong penderita adalah dengan memberinya sebanyak mungkin cairan, sebelum
dibawa berobat ke dokter atau Rumah Sakit. Selama penderita masih sadar dan
dapat minum, berikanlah cairan melalui mulutnya. Selain air, perlu pula
dikembalikan garam-garam mineral yang ikut hilang. Pertolongan pertama dapat
dilakukan dengan memberikan larutan gula garam (oralit) dengan segera begitu
terlihat adanya gejala-gejala muntaber agar tidak terjadi dehidrasi. Cara
mencampur bahan : larutkan 1 sendok teh gula pasir (4 gram) dan 1 ujung sendok
teh garam dapur (1 gram) ke dalam segelas air masak (200 cc).Disamping
pemberian oralit, makanan dan minuman lain (cairan rumah tangga) harus tetap
diberikan. Jika yang terkena muntaber adalah bayi yang masih menyusu ibunya
maka ASI (Air Susu Ibu) terus diberikan. Segera bawa ke tempat pelayanan
kesehatan terdekat jika sudah muncul tanda-tanda dehidrasi.
Biasanya kepanikan terjadi
jika ada salah satu anggota keluarga terlihat mengalami gejala muntaber. Jika
kita melihat hal itu terjadi, tak perlu panik tetapi segeralah bertindak cepat.
Begitu penderita mulai
terserang berikan 2 atau 3 gelas larutan yang sudah jadi. Setelah itu setiap
kali penderita mencret atau muntah berikan 1 gelas lagi. Sementara pertolongan
pertama sudah terlaksana bawalah penderita penderita secepatnya ke rumah sakit
terdekat. Pemberian larutan hendaknya diteruskan sampai penderita mendapat
pertolongan dokter atau medis. Dengan cara sederhana tersebut penggantian
cairan tubuh dapat sesegera mungkin diatasi sehingga dehidrasi dapat dihindari.
Cara Memberikan Oralit
Jika di rumah sudah
tersedia oralit dalam kemasan, maka bisa diberikan kepada penderita dengan cara
:
Baca aturan pakai dan
ikuti instruksi yang tertulis dalam kemasan supaya tidak terjadi kesalahan
dalam mencampur serbuk oralit dengan air sehingga jumlahnya berlebihan atau
justru kurang. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika ragu-ragu dalam
memberikan oralit. Oralit diberikan sedikit-sedikit tapi sering supaya tidak
semakin merangsang terjadinya muntah. Jika Anda hendak memberikan oralit pada
anak-anak sebaiknya menggunakan sendok dan jangan dengan botol. Jika terjadi
muntah saat pemberian oralit, tunggu dulu 10 menit kemudian lanjutkan pemberian
oralit perlahan-lahan.
Cara Mencegah Muntaber
Banyak cara untuk mencegah muntaber, antara lain :
·Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dan dalam jumlah yang
cukup
·Penggunaan air bersih untuk minum
·Mencuci tangan sesudah buang air besar dan sebelum makan
·Membuang tinja, termasuk tinja bayi pada tempatnya
·Menjaga kebersihan jamban keluarga
·Menjaga kebersihan rumah, terutama kamar mandi, WC dan dapur
·Menjaga kebersihan peralatan makan
·Mencuci sayuran, buah, dan bahan makanan sebelum dimasak
·Memisahkan perangkat anggota keluarga yang terkena muntaber
supaya tidak menular pada yang lain
·Jika Anda mempunyai bayi maka berikan ASI eksklusif sampai
dengan 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI sampai 2 tahun pertama kehidupan
serta sebisa mungkin menghindari penggunaan susu botol.
Oleh : Ekowati Niken
Priyani ( nikenpriyani0@gmail.com
)
Blog: nikenpriyani.blogspot.com

0 komentar:
Posting Komentar