Persoalan yang selalu
menarik untuk dibicarakan adalah bagaimana memperlambat proses penuaan.
Kalaupun tidak dapat diperlambat, maka yang paling diinginkan adalah bagaimana
menjadi tua dengan sehat dan mandiri.
Melakukan kegiatan
olahraga secara teratur dianggap sebagai cara yang paling baik untuk
memperlambat proses menua. Olahraga yang dimaksudkan adalah olahraga kesehatan,
atau kegiatan fisik yang bertujuan meningkatkan kebugaran dan kinerja
seseorang, bukan olahraga untuk tujuan prestasi.
Pada orang lanjut usia
(lansia) banyak dari organ-organ tubuh yang mulai mengalami proses degenerasi
atau menua. Terjadi penurunan massa otot serta kekuatannya, laju denyut jantung
maksimal, kapasitas aerobik, dan terjadinya peningkatan lemak tubuh. Bukti-bukti
yang ada menunjukkan bahwa latihan dan olahraga pada lansia dapat mencegah atau
melambatkan kehilangan fungsional tersebut, bahkan latihan yang teratur dapat
memperbaiki kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit
kardiovaskuler
Salah satu pendapat
untuk menurunkan kematian dan kecacatan para lansia adalah dengan cara
meningkatkan satu tahap saja dari keadaan aktivitas sebelumnya. Jadi lansia
yang sebelumnya inaktif menjadi kadang aktif, lansia yang sebelumnya kadang
aktif menjadi melakukan aktivitas secara teratur, dan yang sebelumnya telah
melakukan aktivitas teratur kemudian melakukan olahraga secara teratur. Untuk
memberikan hasil yang maksimal, semua kegiatan olahraga harus dilakukan secara
teratur dan berkesinambungan.
Resiko yang perlu
diperhatikan dari latihan atau olahraga bagi usia lanjut adalah kematian
mendadak, perlukaan, dan osteoarthiritis (radang tulang dan sendi). Yang paling
serius, meskipun jarang terjadi adalah kematian mendadak yang didefinisikan
sebagai kematian yang terjadi selama melakukan latihan atau dalam waktu satu
jam setelah selesai latihan. Resiko terjadinya kematian mendadak sangat kecil.
Kebanyakan karena gangguan jantung (cardiac death), diantaranya penyakit
arteri koroner yang telah diderita lama.
Perlukaan saat latihan
sering terjadi pada latihan/olahraga terorganisasi, sebagai akibat latihan yang
berlebihan (overuse). Yang paling sering terkena adalah sendi
pergelangan kaki. Perlukaan juga lebih sering terjadi pada latihan berimpak
tinggi (jogging/menari) dibanding latihan yang berimpak rendah (berjalan kaki).
Data menunjukkan wanita lebih sering mendapat perlukaan tungkai bawah dibanding
pria dalam melakukan jogging.
Osteoarthiritis bisa
diperberat oleh keadaan inaktif, sebagai akibat stres berulang pada sendi yang
disangga oleh otot yang lemah dan tendon yang kaku. Aktivitas menahan beban
yang berimpak rendah, misalnya berjalan dapat mencegah osteoarthritis dengan
jalan menguatkan otot, meningkatkan densitas tulang dan mengurangi kegemukan.
Karena resiko yang
ada, maka sebelum melakukan aktivitas/olahraga dianjurkan untuk melakukan
berbagai evaluasi atas keadaan fisik dan kesehatan lansia, selain untuk menjaga
kemungkinan komplikasi yang terjadi, juga untuk menilai berbagai jenis latihan
mana yang sesuai bagi individu lansia tersebut.
·
Gizi
pada usia lanjut
Lansia, seperti juga
tahapan-tahapan usia yang lain dapat mengalami baik keadaan gizi lebih maupun
kekurangan gizi. Terjadinya kekurangan gizi pada lansia oleh karena sebab
primer maupun sekunder. Sebab-sebab yang bersifat primer meliputi
ketidaktahuan, isolasi sosial, hidup seorang sendiri, baru kehilangan pasangan
hidup, gangguan fisik,gangguan mental, kemiskinan. Sebab sekunder meliputi
gangguan nafsu makan/selera, gangguan mengunyah,malabsorpsi,obat-obatan,
peningkatan kebutuhan zat gizi serta alkoholisme.
Untuk memenuhi status
gizi lansia, Departemen Kesehatan telah menyusun pedoman umum gizi seimbang
bagi lansia dengan mempertimbangkan pengurangan berbagai resiko penyakit
degeneratif yang dihadapi lansia. Pedoman umum tersebut meliputi:
·
Makanlah
aneka ragam makanan
Mengkonsumsi berbagai
bahan makanan secara bergantian akan menurunkan kemungkinan kekurangan gizi
tertentu.
·
Makanlah
sumber karbohidrat kompleks (serealia, umbi) dalam jumlah sesuai dengan anjuran.
Tujuannya adalah menjamin cukup serat.
·
Batasi
konsumsi lemak dan minyak secara berlebihan. Gunakan minyak nabati seperti
kacang-kacangan.
·
Makanlah
sumber zat besi secara cukup, bergantian antara sumber hewani dan nabati.
·
Minum
air bersih, dan cukup jumlahnya.
·
Kurangi
konsumsi makanan yang tinggi gula murni dan lemak.
·
Perbanyak
frekuensi konsumsi hewan laut dalam menu harian. Lemak tak jenuh omega-3 yang
banyak pada golongan ikan terbukti memberikan perlindungan terhadap
arterosklerosis.
·
Gunakan
garam beryodium, namun batasi penggunaan garam.
·
Perbanyak
konsumsi sayur dan buah berwarna hijau, kuning, oranye karena banyak mengandung
serat, vitamin C, provitamin A, dan vitamin E yang melindungi sel-sel tubuh
dari kerusakan yang terjadi secara dini.
Post By : Tri.A.Saputra
Email : Atthasaputra@gmail.com
Blog :
Atthasaputra.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar